PERMINTAAN (Demand)
·         Perminttan adalah keinginan dan kemampuan pembeli (konsumen) untuk membeli barang/jasa.
·         Hukum permintaan = Apabila harga suatu barang atau jasa naik maka jumlah barang atau jasa yang diminta konsumen akan berkurang dan sebaliknya. Jadi, antara harga yang diminta konsumen dan jumlah berlawanan.
·         Cateris parubus = Hal – hal atau faktor – faktor lain yang mempengaruhi permintaan teteap atau tidak berubah (konstan) misalnya pendapatan keluarga.
·         Macam 0 macam permintaan :
a.       Permintaan absolute : Permintaan yang tidak didukung oleh daya beli
Contoh : Pak Tatang pekerjaannya tidak tetap, kadang 1 bulan pendapatannya dibawah UMR, tetapi beliau ingin membeli sepeda motor.
b.      Permintaan potensial : Permintaan yang disertai dengan daya beli tapi belum terjadi transaksi.
Contoh : Pak Amir pendapatannya Rp. 10.000.000/bulan dan beliau mempunyai tabungan Rp. 40.000.000, Beliau belum mempunyai kendaraan bermotor tetapi baliau belum ingin membeli.
c.       Permintaan efektif : Permintaan yang disertai dengan daya beli.
Contoh : Pak Amir (contoh b) yang ingin membeli kendaraan bermotor.
d.      Permintaan individu : Permintaan seseorang akan suatu barang tertentu.
Contoh : Pak Agus ingin membeli mobil Ferrari
e.       Permintaan pasar : Permintaan banyak orang akan suatu barang.
Contoh : Koperasi menjual buku tulis karena siswa – siswi SMP perlu buku tulis.
·         Faktor – faktor yang mempengaruhi permintaan :
1.      Pendapatan konsumen : Semakin tinggi gaji konsumen maka semakin besar keinginan konsumen untuk membeli barang.
2.      Intensitas konsumen : Misalnya waktu tahun ajaran baru, kenutuhan akan buku tulis meningkat.
3.      Selera konsumen : Misalnya selera akan batik sekarang ini meningkat.
4.      Perkiraan harga dimasa yang akan datang : Masyarakat memperkirakan bahwa pada bulan puasa harga telur akan naik, karena ada berita seperti itu maka satu bulan sebelumnya banyak orang akan membelinya.
5.      Jumlah konsumen
6.      Harga barang pengganti : Misalnya gas LPG lebig murah daripada minyak gas --- masyarakat akan menggunakan gas LPG.
7.      Harga barang pelengkap : Karena masyarakat tahu bahwa gas LPG lebih murah maka orang akan membeli kompor gas.

BENTUK DAN POLA ALIRAN SUNGAI
Bentuk – bentuk sungai
§  Sungai konsekuen lateral : Sungai yang arah alirannya menuruni lereng- lereng asli yang ada dipermukaan bumi.
§  Sungai konsekuen lomgitudinal : Sungai yang alirannya sejajar dengan antiklinal.
§  Sungai subsekuen : Sungai yang terjadi karena erosi mundur yang akirnya sampai ke puncak lereng.
§  Sungai superimposed : Sungai yang mengalir pada lapisan sedimen datar yang menutupi lapisan dibawahnya.
§  Sungai antisedan : Sungai yang arah alirannya tetap karena dapat mengimbangi pengangkutan yang terjadi.
§  Sungai resekuen : Sungai yang mengalir menuruni adip slope. Sungai ini sering merupakan anak dari subsekuen.
§  Sungai obsekuen : Sungai yang mengalir menuruni permukaan patahan.

Pola – pola aliran sungai
§  Pararel : Terdapat pada suatu daerah yang luas dan miring sekali sehingga gradien sungai itu besar.
§  Rectangular : Terdapat pada daerah yang mempunyai struktur patahan.
§  Anulat : Pola aliran sudutnya lebih kecil atau lebih besar. Sungai ini mengikuti garis patahan.
§  Radial sentrifugal : Pola alirannya pada kerucut gunung berapi atau dong yang baru menuruni lereng- lereng pegunungan.
§  Radial sentripetal : Pola alirannya pada suatu kawah dan pola alirannya menuju pusat depresi.
§  Trelis : Sungai yang mengalir sepanjang lembah dari suatu bentukan antiklin dan siklin.
§  Anular : Terdapat pada suatu dom atau kalbera.
§  Dendritik : Pola aliran yang mirip cabang atau akar tanaman.

Budi Utomo (ejaan Soewandi: Boedi Oetomo) adalah sebuah organisasi pemuda yang didirikan oleh Dr. Sutomo dan para mahasiswa STOVIA yaitu Goenawan Mangoenkoesoemo dan Soeraji pada tanggal 20 Mei 1908. Digagaskan oleh Dr. Wahidin Sudirohusodo. Organisasi ini bersifat sosial, ekonomi, dan kebudayaan tetapi tidak bersifat politik. Berdirinya Budi Utomo menjadi awal gerakan yang bertujuan mencapai kemerdekaan Indonesia walaupun pada saat itu organisasi ini awalnya hanya ditujukan bagi golongan berpendidikan Jawa.
Saat ini tanggal berdirinya Budi Utomo, 20 Mei, diperingati sebagai Hari Kebangkitan Nasional.
Budi Utomo
Pada hari Minggu, 20 Mei 1908, pada pukul sembilan pagi, bertempat di salah satu ruang belajar STOVIA, Soetomo menjelaskan gagasannya. Dia menyatakan bahwa hari depan bangsa dan Tanah Air ada di tangan mereka. Maka lahirlah Boedi Oetomo. Namun, para pemuda juga menyadari bahwa tugas mereka sebagai mahasiswa kedokteran masih banyak, di samping harus berorganisasi. Oleh karena itu, mereka berpendapat bahwa "kaum tua" yang harus memimpin Budi Utomo, sedangkan para pemuda sendiri akan menjadi motor yang akan menggerakkan organisasi itu.
Sepuluh tahun pertama Budi Utomo mengalami beberapa kali pergantian pemimpin organisasi. Kebanyakan memang para pemimpin berasal kalangan "priayi" atau para bangsawan dari kalangan keraton, seperti Raden Adipati Tirtokoesoemo, bekas Bupati Karanganyar (presiden pertama Budi Utomo), dan Pangeran Ario Noto Dirodjo dari Keraton Pakualaman.
Teks miring== Perkembangan == Budi Utomo mengalami fase perkembangan penting saat kepemimpinan Pangeran Noto Dirodjo. Saat itu, Douwes Dekker, seorang Indo-Belanda yang sangat properjuangan bangsa Indonesia, dengan terus terang mewujudkan kata "politik" ke dalam tindakan yang nyata. Berkat pengaruhnyalah pengertian mengenai "tanah air Indonesia" makin lama makin bisa diterima dan masuk ke dalam pemahaman orang Jawa. Maka muncullah Indische Partij yang sudah lama dipersiapkan oleh Douwes Dekker melalui aksi persnya. Perkumpulan ini bersifat politik dan terbuka bagi semua orang Indonesia tanpa terkecuali. Baginya "tanah air api udara" (Indonesia) adalah di atas segala-galanya.
Pada tanggal 3-5 Oktober 1908, Budi Utomo menyelenggarakan kongresnya yang pertama di Kota Yogyakarta. Hingga diadakannya kongres yang pertama ini, BU telah memiliki tujuh cabang di beberapa kota, yakni Batavia, Bogor, Bandung, Magelang, Yogyakarta, Surabaya, dan Ponorogo. Pada kongres di Yogyakarta ini, diangkatlah Raden Adipati Tirtokoesoemo (mantan bupati Karanganyar) sebagai presiden Budi Utomo yang pertama. Semenjak dipimpin oleh Raden Adipati Tirtokoesoemo, banyak anggota baru BU yang bergabung dari kalangan bangsawan dan pejabat kolonial, sehingga banyak anggota muda yang memilih untuk menyingkir. Pada masa itu pula muncul Sarekat Islam, yang pada awalnya dimaksudkan sebagai suatu perhimpunan bagi para pedagang besar maupun kecil di Solo dengan nama Sarekat Dagang Islam, untuk saling memberi bantuan dan dukungan. Tidak berapa lama, nama itu diubah oleh, antara lain, Tjokroaminoto, menjadi Sarekat Islam, yang bertujuan untuk mempersatukan semua orang Indonesia yang hidupnya tertindas oleh penjajahan. Sudah pasti keberadaan perkumpulan ini ditakuti orang Belanda. Munculnya gerakan yang bersifat politik semacam itu rupanya yang menyebabkan Budi Utomo agak terdesak ke belakang. Kepemimpinan perjuangan orang Indonesia diambil alih oleh Sarekat Islam dan Indische Partij karena dalam arena politik Budi Utomo memang belum berpengalaman. Karena gerakan politik perkumpulan-perkumpulan tersebut, makna nasionalisme makin dimengerti oleh kalangan luas. Ada beberapa kasus yang memperkuat makna tersebut. Ketika Pemerintah Hindia Belanda hendak merayakan ulang tahun kemerdekaan negerinya, dengan menggunakan uang orang Indonesia sebagai bantuan kepada pemerintah yang dipungut melalui penjabat pangreh praja pribumi, misalnya, rakyat menjadi sangat marah.
Kemarahan itu mendorong Soewardi Suryaningrat (yang kemudian bernama Ki Hadjar Dewantara) untuk menulis sebuah artikel "Als ik Nederlander was" (Seandainya Saya Seorang Belanda), yang dimaksudkan sebagai suatu sindiran yang sangat pedas terhadap pihak Belanda. Tulisan itu pula yang menjebloskan dirinya bersama dua teman dan pembelanya, yaitu Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo ke penjara oleh Pemerintah Hindia Belanda (lihat: Boemi Poetera). Namun, sejak itu Budi Utomo tampil sebagai motor politik di dalam pergerakan orang-orang pribumi.
Agak berbeda dengan Goenawan Mangoenkoesoemo yang lebih mengutamakan kebudayaan dari pendidikan, Soewardi menyatakan bahwa Budi Utomo adalah manifestasi dari perjuangan nasionalisme. Menurut Soewardi, orang-orang Indonesia mengajarkan kepada bangsanya bahwa "nasionalisme Indonesia" tidaklah bersifat kultural, tetapi murni bersifat politik. Dengan demikian, nasionalisme terdapat pada orang Sumatera maupun Jawa, Sulawesi maupun Maluku.
Pendapat tersebut bertentangan dengan beberapa pendapat yang mengatakan bahwa Budi Utomo hanya mengenal nasionalisme Jawa sebagai alat untuk mempersatukan orang Jawa dengan menolak suku bangsa lain. Demikian pula Sarekat Islam juga tidak mengenal pengertian nasionalisme, tetapi hanya mempersyaratkan agama Islam agar seseorang bisa menjadi anggota. Namun, Soewardi tetap mengatakan bahwa pada hakikatnya akan segera tampak bahwa dalam perhimpunan Budi Utomo maupun Sarekat Islam, nasionalisme "Indonesia" ada dan merupakan unsur yang paling penting.

About